Jumat, 31 Agustus 2012

Warga Batahan Tetap Minta PT PR Hengkang dari Madina

Masyarakat Batahan I, II dan III, Kecamatan Batahan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina) tetap pada pendiriannya yang meminta PT Palmaris Raya (PR) hengkang dari Kabupaten Madina.
Ketetapan pendirian itu terungkap dalam rapat dengar pendapat (RDP) antara Panitia Khusus (Pansus) DPRD dengan masyarakat Batahan dan PT Palmaris Raya, Jumat (11/5).

Salah seorang warga, Amrun, mengatakan sejak awal masyarakat tetap pada tuntutan agar PT PR memberikan tanah masyarakat yang telah ditanami dengan sawit, agar masyarakat bisa kembali mengusahainya untuk menopang kehidupan keluarga mereka.

“Kita berharap kepada Pansus untuk menjembataninya agar lahan-lahan yang sudah bersertifikat di Batahan III dikembalikan, sementara di Batahan itu persoalan KUD Pasar Baru Batahan yang ditanami perusahaan sekitar 800 hektar juga dikembalikan,” katanya.

Bahkan, sebut Amrun, lahan garapan masyarakat juga diserobot sekitar 1.000 hektar, di Batahan III lahan sertifikat 400 hektar ditambah lahan garapan 267 hektar, sehingga total lahan yang dipersoalakan seluas 2.467 hektar, sementara izin lokasi perusahaan hanya 2.800 hektar.

“Inilah lahan-lahan masyarakat yang dipermasalahkan, dan hingga sekarang plasma yang dijanjikan belum trealisasi. Dan tentang MoU tahun 2008 sebanyak 200 hektar tidak dibangun sampai sekarang,” terangnya.
Terkait rencana Pansus dan tim dari Pemkab yang akan turun ke lokasi, Amrun, berharap agar tim bekerja semaksimal mungkin, sehingga apa yang didambakan masyarakat selama 13 tahun ini terjawab.

Sebelumnya warga Batahan dalam pernyataan sikapnya menyatakan, kronologis perjalanan PT PR yang sarat dengan rekayasa dan bertentangan dengan hukum, kehadirannya membuat sengsara masyarakat.
Masyarakat meminta kepada PT PR untuk mematuhi surat Bupati Madina yang menstanvaskan kegiatan perusahan di lahan bersengketa. Berharap kepada apara penegak hukum bertindak kooperatif, sehingga yang perlu dilindungi dan dibela adalah masyarakat. Kepada Legislatif dan ekssekutif tetap mengacu pada kepentingan masyarakat.

Kemudian masyarakat juga menyampikan bahwa rapat yang dilaksanakan pada 29 April kemarin adalah sepihak, yang mengatasnamakan person dan meminta kepada Bupati Madina, BPN untuk tidak merekomendasikan HGU PT PR secara keseluruhan adalah lokasinya di Batahan III.(Str.Brt/TRI/MBB)

Sumber: Klik Disini

Tuntut Palmaris Hengkang Dari Madina, Ratusan Warga Batahan Datangi Gedung Dewan

Sedikitnya 130 warga Batahan 3 Kecamatan Batahan Kabupaten mandailing Natal yang tergabung dalam Serikat Petani Indonesia (SPI) (9/4) mendatangi gedung DPRD Mandailing Natal (Madina). Kedatangan warga ini mengadukan nasib mereka atas perampasan hak tanah warga oleh PT.Palmaris Raya yang sudah berlangsung selama 14 tahun.

Warga ini sampai di Gedung dewan sekitar puluk 09.00 Wib dengan mengendarai truk dan membawa spanduk yang bertuliskan PT.Palmaris virus bagi masyarakat, usir PT.Palmaris dari daerah kami, jangan jadikan konflik mesuji terjadi di Madina, tegakkan hukum, jangan ciptakan Palmaris penjahat pemerintah.

Dalam orasi Kordinator Aksi Mahfud yang juga merupakan ketua SPI (Serikat Petani Indonesia) Basis Batahan III mengatakan, kedatangan mereka untuk mengadukan nasib masyarakat Kecamatan Batahan tentang keberadaan PT Palmaris raya. Perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan ini dikatakannya selama belasan tahun telah menyesengsarakan masyarakat. Perusahaan ini sebelumnya bernama PT.Supra Primoris Corporation yang nota bone pemilik izin pemanfaatan kayu seluas 900 Ha di Mandailing Natal. Akan tetapi fakta dilapangan bertentangan dengan yang seharusnya, lahan masyarakat transimigrasi yang bersertifikat dan mempunyai kekuatan hukum tetap kini telah ditanami sawit oleh PT Palmaris Raya. 

Dalam tuntutannya itu massa juga mencantumkan 13 poin butir arogansi Palmaris yang mengkangkangi hukum di Instansi Pemkab Madina. dimana isinya berupa permasalahan yang terjadi antara Palmaris dengan lahan masayarakat UPT Batahan III untuk segera diselesaikan. “ Dalam tuntutan kami ini turut kami sertakan apa-apa yang telah dilanggar oleh perusahan kata Mahfud.

Setelah satu jam masyarakat melakukan orasi beberapa perwakilan diterima anggota Dewan untuk melakukan musyawarah antara DPRD dan Pemkab Madina di ruang Banmus. (mar/holik)

Senin, 05 Maret 2012

Kecamatan Batahan Dilepaskan Saja Ke Sumbar

Panyabungan (MO) – Kecamatan Batahan Kabupaten Mandailing Natal selalu diposisi anak tiri. Perhatian pemerintah daerah selalu minus, terutama infrastruktur mengakibatkan jalan ke sana compang camping.
Jika begini terus, sebaiknya Batahan masuk ke Provinsi Sumatera Barat saja agar lebih baik infrastruktur dan kesejahteraan rakyatnya.

“Sejak Kecamatan Batahan defenitif di era Tapanuli Selatan hingga era Mandailing Natal, perhatian sangat minim,” kata Anggota DPRD Madina Ali Hanafiah, kepada Mandailing Online, Jum’at (2/3).
Ali mengungkapkan, kondisi jalan yang compang camping menyebabkan biaya transportasi sangat tinggi bagi warga Batahan. Kondisi ini tak pernah berubah. Masyarakat Batahan yang akan keluar menuju kota Natal saja harus mengeluarkan uang diatas Rp.100.000 ribu sekali jalan, via laut. 

“Bila kita melakukan pembedahan terhadap APBD tahun anggaran 2012, pembangunan kewilayah Pantai barat sangat minim terutama untuk kecamatan Batahan,” tegaskan Ali.
Ali mengungkapkan, saat Pilkada lalu, bupati Hidayat Batubara sangat rajin turun ke batahan dan menyatakan bersedia membangun jalan mulai dari Kecamatan Sinunukan ke Batahan. Namun, saat ini kondisinya sangat cukup parah, bahkan bila di musim penghujan seperti sekarang ini, kondisi jalan berlobang-lobang seperti kubangan kerbau.

“Keluhan-keluhan masyarakat ini harus secepatnya ditanggapi oleh Bupati Madina Hidayat Batubara, dan masyarakat sangat berharap agar bupati untuk turun secara langsung kesana,” tegaskan Ali Hanafiah.
Ali Hanafiah menilai kekecewaan masyarakat tersebut sangat berdasar. Bukan hanya pada persoalan infrastruktur, juga persoalan izin-izin perusahaan perkebunan di wilayah itu yang tak kunjung beres, baik PTPN IV maupun PT. Palmaris. Termasuk juga tidak kunjungnya terselenggara plasma untuk masyarakat terutama dari PT. Palmaris.

“Bila Pemkab Madina tidak serius menanggapi ini, masyarakat Batahan akan melayangkan surat ke Mendagri, Gubernur dan Bupati Madina untuk bergabung ke Sumbar,” pungkas Ali. (mar)

Source: Klik Disini

Selasa, 24 Januari 2012

Jembatan Langgunai Batahan; Perlu Diperbaiki

Pantai Langgunai di Kecamatan Batahan merupakan salah satu objek wisata pantai di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), hanya saja untuk menuju ke lokasi butuh waktu dan perbaikan jalan serta jembatan yang masih terbuat dari kayu. Pantauan MedanBisnis, ketika berkujung ke pantai tersebut, panorama alam dan pemandangannya bagus untuk menjadi tujuan wisata. Sayangnya menjadi kurang menarik akibat jembatan dan pendukung lainnya.

Hal yang sama juga disampikan seorang pengamat pembangunan daerah, Khoirullah Lubis kepada MedanBisnis, Minggu (15/1). Dia sering melewati jalur ini dan mengatakan, Pemkab Madina perlu memperhatikan jembatan ke lokasi tersebut jika ingin pantai ini menjadi tujuan wisata masyarakat.

“Saya melihat Jambatan ini merupakan akses masuk menuju Pantai Langgunai, tetapi kondisinya sangat memprihatinkan. Jembatan yang terbuat dari kayu sudah mulai lapuk dan patah – patah. Sudah waktunya pemerintah melakukan perbaikan atau pembangunan jembatan permanen” katanya.

Hal sama juga disampikan Rahmadi, warga Batahan. Menurutnya, Pantai Langgunai selama ini cukup ramai dikunjungi masyarakat dari luar. “Pantai ini merupakan salah satu pembantu ekonomi masyarakat, apalagi pada waktu liburan cukup ramai dikunjungi masyarakat dari luar Batahan, untuk itu kita mengharapkan adanya perbaikan dan pembangunan dari pemerintah,” harapnya. (zamharir rangkuti.medanbisnis)

Senin, 02 Januari 2012

1.000 Desa di Sumut Dapat Bantuan Rp 50 Juta

Assalamu'alaikum wr wb.
Dunsanak keluarga Batahan dimanapun berada, dari berita ini terlihat bahwa akan ada 1000 desa yang mendapatkan alokasi dana untuk pengembangan ekonomi pedesaan. Itu artinya hampir 20% dari total desa yang berjumlah 5.060 yang ada di Prop. Sumatera Utara akan kebagiana dana tersebut. Dengan persentase seperti itu, harusnya beberapa desa di kecamatan Batahan juga akan memperolehnya. Dan kita sebagai masyarakat Batahan perlu mengawasi penggunaannya agar benar-benar tepat guna. Berita lengkapnya ada di bawah ini:
--

Medan. Pemerintah Propinsi Sumatera Utara (Pempropsu) mengalokasikan dana sebesar Rp 50 miliar untuk pengembangan ekonomi pedesaan pada Anggaran dan Pendapatan Belanja Daerah (APBD) 2012. Dana tersebut akan diberikan pada 1.000 desa, masing-masing desa menerima Rp 50 juta.

“Program ini adalah program baru yang akan dimulai tahun 2012, secara bertahap program ini direncanakan setiap tahun hingga seluruh desa di Sumut yang jumlahnya 5.060 desa tercover dalam program pengembangan ekonomi pedesaan ini,” kata Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sumut Riadil Akhir Lubis, di Medan, Jumat (30/12).

Rabu, 28 Desember 2011

Malang Benar Nasib Kampung Soetan Sjahrir

BATAHAN NATAL – Bahasa dan budaya jadi bukti, lebih separo penduduk di Kecamatan Batahan dan Natal, Kabupaten Mandahiling Natal (Madina), Sumut, adalah Minangkabau tulen. Sayangnya, kendati mereka adalah penduduk asli di pesisir barat Sumatra itu, tapi nyaris tidak ada pembangunan infrastruktur yang dilakukan pemerintah.

Malang benar nasib si Minang provinsi sebelah itu. Dahulu mereka hidup dari berkebun cengkeh. Di awal 1980-an, cengkeh tak mau hidup lagi. Penyakit mati ke pucuk yang menyerang. Warga pun beralih jadi nelayan secara total. Kegarangan ombak di pantai barat mereka hadang. Potensi perikanan yang demikian besar, mampu mengangkat kembali perekonomian setelah diamuk gagalnya perkebunan cengkeh.

Kejayaan itu tak berlangsung lama. Prilaku ilegal fishing para nelayan serakah, baik berasal dari Sibolga maupun luar negeri, mengakibatkan ikan di laut berubah menjadi makhluk langka. “Penangkapan ikan menggunakan bahan peledak, trawl (pukat harimau) dan hamparan mengakibatkan rusaknya habitat ikan. Tak ada lagi tempat mereka berkembang biak,” terang seorang warga.

Ketika ikan telah menjadi langka, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Si Minang yang bermukim di Batahan dan Natal itu mengambil keputusan nekat: kapal bagan yang selama ini jadi penopang mata pencaharian terpaksa dijual. Kalau dulu ratusan bagan warga setiap hari merapat di pelabuhan pendaratan ikatan, maka kini hanya satu dua. Itu pun dengan hasil tangkapan yang alakadarnya saja.

Kemiskinan pun merajalela. Roda ekonomi warga nyaris tak bergerak lagi. Derajat kesehatan menurun. Anak-anak banyak yang putus sekolah. Sebagian warga beralih jadi buruh harian lepas (BHL) di perusahaan-perusahaan perkebunan dengan standar upah jauh di bawah standar layak dan pantas, sebagian lagi memilih untuk menjual sisa-sisa lahan yang pernah dipunyai. Kini, Batahan dan Natal berubah menjadi sebuah potret kenelangsaan yang nyaris tak seorang pun yang peduli.
Berharap dari adanya pemekaran Kabupaten Tapanuli Selatan dengan terbentuknya Kabupaten Madina, ternyata tidak menyelesaikan persoalan. Akses ke Batahan dan Natal yang masyarakatnya berbahasa Pariaman dengan logat Melayu itu tak pernah terperhatikan. Ada-ada saja alasan Panyabungan (sebutan untuk ibukota Madina) untuk tidak membangun di negeri yang berpenduduk lebih dari 20 ribu jiwa.

Berkunjung ke Batahan dan Natal bukanlah pekerjaan mudah. Jalan raya dari Jembatan Merah dan Silaping (Pasaman Barat, Sumbar) sangat memprihatinkan. Kalau musim panas ‘aspalnya’ berdebu, sementara musim hujan ‘aspalnya’alah nyalang. Berkubang. Penuh lumpur. Tak ada kendaraan bermotor bisa melewati.

“Dua puluh tahun lalu saya berkunjung ke sini, kondisi jalannya sudah seperti itu juga. Kini saya ke sini lagi. Masih jalan tanah juga rupanya sarana transportasi ke Batahan ini. Tak ada rupanya yang peduli. Malang benar nasib sanak saudara kami di sini,” ujar Salman, salah seorang perantau Batahan di Jakarta, Minggu (30/1) di Batahan.

Jalan tanah itu panjangnya mencapai sekitar 45 kilometer. Akses jalan beraspal terakhir hanya bisa ditemukan di Pulo Padang, Kecamatan Lingga Bayu. Sebenarnya bukan hanya Batahan yang marasai akibat tak ada akses jalan raya itu. Masyarakat Kecamatan Sinunukan, berada di jalur Simpang Gambir-Batahan juga ikut-ikutan menderita. Bedanya, mayoritas warga Sinunukan adalah transmigran asal Jawa, sementara Batahan adalah warga keturunan Minangkabau. Apakah pemerintah Tapsel (dahulu) dan Madina (kini) berlaku diskriminatif? Tak tahulah.

Mantan Wakil Ketua DPRD Madina, H. Aflan Nasution, mengatakan, Pemkab Madina tidak bisa mengalokasikan APBD-nya untuk membuka akses jalan raya ke Batahan via Sinunukan karena untuk membangun jalan lintas adalah kewenangan pemerintah provinsi dan pemerintah pusat.
“Untuk pembangunan jalan raya untuk membuka keterisolasian Sinunukan dan Batahan tidak bisa dengan APBD Madina. Itu adalah kewenangan provinsi. Saya sudah coba memperjuangkannya. Tapi tak berhasil,” katanya.
Masyarakat Natal dan Batahan benar-benar Minang, kendati ada beberapa warga yang juga Mandahiling. Dari daerah ini telah lahir orang-orang terkenal semacam Soetan Sjahrir dan Soetan Takdir Alisjahbana. Begitu juga dengan istri Mohammad Natsir. Ada 12 kepala suku di nagari ini.

Aktifitas masyarakat juga berorientasi ke Sumbar. Bagi warga Natal dan Batahan, Padang dan Pasbar lebih dekat di hati ketimbang Panyabungan dan Medan. Segala kebutuhan warga, mulai dari minyak tanah, bensin, solar hingga beras dan kebutuhan lainnya, didatangkan dari Padang, Ujunggading dan Simpangempat. Bahkan, kendaraan bermotor milik warga, lebih banyak yang menggunakan BA ketimbang BB atau BK.

“Rasanya kami tak ikut merdeka. Sudah luar biasa pesat perkembangan pembangunan di daerah sekeliling, tapi kami tetap begini-begini saja. Kalau Pemkab Madina tak kunjung peduli juga, perkenankanlah kami bergabung kie Sumbar atau diizinkan mendirikan kabupaten baru. Tak tahan lagi kami dengan keterisolasian dan keterasingan seperti ini,” seorang warga berkeluh-kesah.*** (Musriadi Musanif)
Source: Klik Disini

Kamis, 22 Desember 2011

Pembangunan Jembatan Menuju Batahan

Panyabungan. Dalam rangka melakukan pembangunan berkelanjutan, PTPN4 telah merealisasikan program Corporate Social Responsibility (CSR) di Kecamatan Batahan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina). Perusahaan itu membangun lima jembatan di sepanjang jalan Sinunukan – Batahan. Selain itu juga ada pembangunan gorong-gorong dan perawatan jalan sepanjang 10 Km.

Total anggaran yang dikeluarkan perusahaan perkebunan itu sebesar Rp 1,38 miliar. Hal itu diungkapkan Manager PTPN4 Kebun Balap Inti, Kasman, Selasa (20/12) di Batahan.
“Melihat kondisi jalan menuju Kecamatan Batahan, yang menjadi sarana transportasi warga di daerah ini, kita melakukan jemput bola ke pusat untuk segera menjalankan program CSR.

Itu demi menunjang perekonomian rakyat, sebab kondisi jalan tersebut sudah menjadi keluhan ribuan kepala keluarga di daerah tersebut. Roda perekonomian warga terhambat sarana transportasi,” sebutnya.
Selain itu, PTPN4 juga memiliki program lain di kawasan tersebut. “Kita juga masih punya banyak program CSR terhadap warga Batahan. Yang saat ini sudah berjalan adalah pembesaran udang lobster, yang dikelola oleh Himpunan Pemuda Kreatif Mandiri (HPKM). Begitu juga dengan sejumlah usaha kecil menengah (UKM),” sebutnya.

Kasman juga mengatakan, telah mengangkat 800 orang putra daerah menjadi karyawan. Selama ini tenaga kerja itu masih menjadi buruh harian (HL). Hal tersebut, menurut dia, bentuk nyata yang dilakukan perusahaan BUMN ini untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Ketua HPKM Batahan, Ramadi, mengatakan, program yang diberikan oleh PTPN4 kepada kelompoknya punya banyak manfaat. “Puluhan pemuda saat ini telah dilatih untuk berusaha secara mandiri dengan pemberian modal Rp 20 juta per kelompok, nantinya setiap usaha yang membutuhkan modal akan dibantu PTPN4,” sebutnya. ( henri.medanbisnis)

Sumber: Klik Disini
---
Semoga semua anggaran yang diberikan PTPN IV melalui program CSR tersebut bisa tepat sasaran sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh semua masyarakat Batahan. Ini perlu diawasi oleh semua pihak yang peduli kepada Batahan.

Mengenai Saya

Foto saya
Untuk pengiriman berita berupa reportase, opini, usul, atau apapun terkait Batahan, bisa diemailkan ke: feribatahan@yahoo.com atau batahan123@gmail.com

Total Tayangan Halaman

 
Design by NewWpThemes | Blogger Theme by Lasantha - Premium Blogger Themes | New Blogger Themes